<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/26132306?origin\x3dhttp://arungsamudra.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

           
 
TENTANG SAM
RIWAYAT HIDUP
ARTIKEL
REKOMENDASI
SPONSOR
MAP
GUEST

 
 

Surat Eelektronik dari Amerika (1)


SEBUAH surat elektronik (email) masuk ke redaksi Tribun, beberapa pekan lalu. Pengirimnya mencantumkan alamat domisilinya di Vanderbilt Ave, Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Tapi namanya bukan nama bule, melainkan Suratman, nama orang Indonesia kebanyakan.

Sudah puluhan tahun ia menetap di Amerika. Sebagaimana cerita mereka yang menempuh hujan emas di negeri orang, tentu banyak kenangan akan Indonesia yang tak pernah terlupakan, negeri yang kini sedang bergeliat, dengan satu dua kerusuhan menyertainya. Tapi bukan soal kerusuhan atau roda pembangunan yang membuat Suratman berkirim surat kepada Tribun.

Isi surat maya itu pendek saja. "Kepada Pak Trisno Aji Putra Yth. Via redaksi Tribun Batam. Bisakah bapak mengasih info bagaimana bisa mengontak Sdr. Fazham Fadlil (alamat di Bandung, email, dan telp) yang cerita pelayarannya/Ekspedisi Arung Samudra saya baca di artikel yang bapak tulis tanggal 4,5,6 April lalu?" begitu tulis Suratman di awal cerita.

Siapakah Suratman? Siapakah Fahzam Fadlil, orang yang ia mintai alamat dan nomor telponnya itu? Kalau Suratman, tentu saja mungkin belum ada orang di Tribun yang mengenal lelaki ini sebelumnya. Tapi kalau Fahzam, tentu pembaca Tribun sudah akrab, sebab pada edisi awal April lalu, secara bersambung, tiga kali Tribun mengangkat rencana nekat lelaki asal Kepri ini untuk melakukan aksi petualangan naik perahu layar dari Indonesia ke Madagaskar, bolak balik.

Perjalanan yang ditempuh lurus membelah Samudera Hindia sejauh itu hampir sekitar delapan ribu mil laut. Waktu yang diprediksikan Fahzam, sekitar dua bulan. Dan kalau tak ada aral melintang, tepat di hari kemerdekaan 17 Agustus nanti, Fahzam bertolak meninggalkan Indonesia.

Tapi Fahzam bukanlah lelaki kemarin sore yang baru tiba-tiba punya ide nekat seperti itu. Sekitar 13 tahun lalu, ia telah nekat naik perahu dari New York ke Tangjungpriok, Jakarta. Hasilnya, Fahzam selamat, meski sempat lima bulan terombang-ambing dalam ketidakpastian dan berbagai persoalan. Itulah sedikit tentang Fahzam. Tapi lantas, siapakah Suratman, si pengirim email?

Agaknya, paragraf selanjutnya yang ditulis Suratman dalam emailnya bisa sedikit menjadi titik terang, "Kami dkk di sini rindu untuk mengontak beliau karena kami juga mengenal Fazham muda dulu. Terima kasih atas bantuannya."

Ya, ternyata Suratman dan Fahzam adalah dua sahabat lama, yang telah berpisah sekitar 13 tahun. Perpisahan itu terjadi, ketika Fahzam memutuskan untuk menempuh samudera dengan perahunya, balik kampung ke Indonesia. Dan Suratman pun tertinggal di New York, bersama kenangan Fahzam akan kota megapolis yang pernah membuat Fahzam ditodong pistol oleh para perampok jalanan.

Meski koran Tribun tak beredar di Amerika, tapi ternyata, nasiblah yang membuka jalan untuk terjalinnya komunikasi dua sahabat lama yang terpisah di dua benua ini. Suratman mengaku tak tahu website Tribun Batam (www.tribun-batam.com). Tapi saat ia sedang browsing, sebuah artikel ia temukan di website pencari. Dari situlah ia mengambil inisiatif untuk mengontak Tribun. (trisno aji putra)


Copyright © SAMSEAS@hotmail.com
all rights reserved, please report any problems on this site to webfarmer
PROXYnet BANDUNG - April 2006